

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Beberapa malam yang lalu saya menyaksikan disalah satu televisi yang menampilkan saudara Ulil Absar Abdilla sebagai tokoh Jaringan Islam Liberal, memprotes mengenai kekerasan yang dilakukan terhadap jama'ah Ahmadiya yang menyebabkan beberapa jama'ahnya tewas, dalam perdebatan ini saya menangkap kata2 ketidak senangan saudara Ulil terhadap wacana agar Ahmadiyah mestilah tidak mengaku Islam tetapi berdiri sendiri sebagai agama, karena dianggap jauh menyimpang dari ajaran Agama Islam, karena dalam Ajaran Agama Islam tidak ada lagi Nabi terakhir selain baginda Rasulullah Nabi Muhammad S.A.W, shalawat dan salam Terhaturkan kepada beliau, namun di dalam ajaran Ahmadiyah, mereka mengakui bahwa Nabi Muhammad Bukanlah Nabi yang terakhir, namun ada Nabi setelahnya Yakni Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku mendapat wahyu dan mereka juga memiliki kitab suci lain yaitu tadzikrah.
Saya setuju dengan saudara Ulil bahwa seharusnya tidak ada kekerasan yang terjadi bahkan mengakibatkan korban tewas, dan dalam Islam sendiri sebenarnya kita tidak diajarkan untuk melakukan kekerasan dengan orang lain kecuali dengan maksud membela Agama Allah pada saat di serang, dalam pernyataannya saudara Ulil mengatakan "orang tidak mau membuat agama sendiri kok di paksa", betul...tapi dalam kapasitasnya menurut saya, kenapa demikian..karena Ahmadiah mengaku sebagai Islam, sedangkan di dalam Islam mereka yang tidak mengakui Rasullullah Sebagai Nabi terakhir dan Kitab Suci Alqur'an adalah kitab suci umat Islam sudah pasti di anggap sesat, dan ini jelas bahkan di dalam Al qur'an sendiri (seharusnya saudara Ulil membaca Al Qur'an, baru ngomong), pertanyaannya sekarang, apa masih bisa dikatakan bahwa penolakan mereka untuk keluar dari pengakuan sebagai Islam sebagai kebebasan berkeyakinan atau penistaan agama? mungkin bisa ditanyakan kepada anak smp.
Kita semua diberikan akal pikiran untuk bisa lebih mencerna, mana yg di sebut kebebasan berkeyakinan sama menistakan agama, sedikit mengenai sejarah Ahmadiyah :
Ahmadiyah merupakan sekte atau gerakan sempalan dalam Islam yang menggeliat di awal abad 20, tepatnya pada 1889, di mana lahir Jemaat Muslim Ahmadiyah. Akarnya adalah sebagian keyakinan bahwa akhir zaman telah tiba, dan pembawa gerakan ini Mirza Ghulam Ahmad merupakan orang yang terpilih sebagai Messiah atau dalam keyakinan Islam disebut sebagai Al-Mahdi yang akan menuntun umat manusia kepada Islam sebenarnya. Ajaran yang mengambil Islam Sunni sebagai rujukan ini berkembang di Inggris, tentu saja berkat kebijakan kolonialis Inggris di tanah Hindustan, yang tidak begitu mencampuri urusan Agama dan keyakinan. Faktanya, pada masa itu, umat Islam di tanah Hindustan lebih memperhatikan bagaimana hubungan antara kaum Muslim dan Hindu, setelah kerajaan Mughal sebagai kerajaan Islam terakhir di India jatuh di bawah kaki Inggris.
Pada babakan berikutnya, jamaah Ahmadiyah terbagi dalam dua kepemimpinan. Yakni Jamaah Ahmadiyah di Qodyan, dan Jamaah Ahmadiyah di Lahore. Secara prinsip tidak ada perbedaan mendasar dari keduanya. Namun yang lebih prinsipil, jemaah Lahore tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, melainkan sebagai pembaharu saja.
Sebenarnya dari sejarah singkat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Ahmadiyahpun sebenarnya terbagi dua, ada yang mengakui Mirza sebagai Ulama biasa dan ada yang mengakuinya sebagai nabi, sedangkan di Indonesia Ahmadiyah berdasarkan fatwa MUI sudah dinyatakan sesat dan keluar dari ajaran Islam karena mengaku Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi (apakah ini bisa di sebut kebebasan berkeyakinan??), tentunya MUI tidak sembarang memutuskan Ahmadiyah sesat, tetapi dengan melakukan kajian mendalam dan masukan2 dari masyarakat sendiri, sebenarnya kalau saja Ahmadiyah mau bergabung dengan komunitas Islam yang lainnya dan kembali kepada ajaran Islam Yang benar yang bertumpu pada ajaran Rasulullah bahwa Tiada tuhan Selain Allah, dan Nabi Muhammad itu utusan Allah yang terakhir dengan kitab sucinya Al Qur'an, saya berkeyakinan seluruh umat muslim akan menerima mereka sebagai saudara seiman, namun jika mereka masih saja menganggap Mirza sebagai Nabi terakhir dan mengaku Islam serta menganggap Tadzikrah sebagai kitab suci mereka, maka sudah jelaslah mereka dapat dikatakan menistakan agama, lalu apakah ini bisa dikatakan sebagai kebebasan berkeyakinan, tapi dengan cara menistakan agama orang, silahkan menilai sendiri.
Semoga Allah Merahmati Kita Semua. Amin
[+/-] Selengkapnya...
[+/-] Ringkasan...